SERANG, AkalinNews.com -- Pagi itu tidak ada raungan sirene. Yang ada hanya seorang ayah berseragam coklat yang berdiri di podium, menatap ratusan anak-anaknya dengan penuh cinta.
Senin (26/10/2026) pukul 07.10 WIB, Kapolsek Kragilan mengambil alih sebagai pembina Upacara Bendera Merah Putih di SMPN 1 Kragilan dalam program Polisi Peduli Pendidikan (Poldik). Program ini adalah atensi langsung dari Kapolres Serang AKBP Moehamad Probandono Bobby Danuardi, S.H., S.I.K., M.Si.
Di sampingnya berdiri Kabag SDM Polres Serang AKP Dede Supratman, S.H., AKP Ilman Robiana, S.H., Aipda M. Sahari Bhabinkamtibmas, Kepala Sekolah, para guru yang setiap hari berjuang mendidik, dan ratusan siswa-siswi yang menjadi harapan bangsa.
Kapolsek tidak langsung membentak. Ia membuka dengan doa dan senyum.
Adik-adikku, anak-anakku semua yang bapak cintai. Hari ini bapak tidak datang sebagai polisi yang ingin menghukum. Bapak datang sebagai ayah, sebagai kakak, yang ingin kalian semua selamat sampai masa depan.
Tema yang ia bawa adalah HINDARI TAWURAN, JUDOL, DAN NARKOBA. Tiga kata yang ia sebut sebagai tiga lubang hitam yang menelan mimpi anak muda.
Nak, pendidikan itu bukan soal rangking 1 atau nilai 100. Pendidikan itu soal menjadi manusia yang berkarakter, yang jujur, yang mandiri, yang bertanggung jawab. Yang bisa membuat ibu dan bapak di rumah tersenyum bangga.
Lalu dengan suara yang sedikit bergetar, Kapolsek membuka data yang membuat semua guru menunduk:
Anak-anakku tahu? Tahun 2025 kemarin, BNN mencatat 28,2 persen pengguna narkoba adalah usia 15 sampai 24 tahun. 312 ribu diantaranya adalah pelajar, seusia kalian. Mereka anak-anak pintar seperti kalian. Mereka punya cita-cita seperti kalian. Tapi sekarang mereka menangis di panti rehabilitasi. Ada yang sudah masuk penjara. Kenapa? Karena salah berteman, karena coba-coba.
Lapangan yang tadi riuh, mendadak senyap. Beberapa siswa terlihat berkaca-kaca.
Kapolsek melanjutkan dengan pelan:
Bapak tahu, menjadi remaja itu tidak mudah. Kalian sedang mencari jati diri. Kadang merasa tidak diperhatikan di rumah, kadang ingin terlihat hebat di depan teman. Dari rasa itulah, setan masuk. Diajak tawuran biar dibilang solid. Diajak judol biar dibilang kaya. Diajak narkoba biar dibilang keren. Padahal itu semua bohong nak.
Dan tentang HP di tangan kalian, Kapolsek berpesan dengan sangat humanis:
HP itu pisau bermata dua. Bisa jadi jendela ilmu, bisa juga jadi pintu neraka. Jangan nodai mata dan hati kalian dengan pornografi. Itu akan merusak cara kalian mencintai dan menghormati orang lain. Dan tolong, jangan pernah sebarkan foto, video, aib teman kalian sendiri. Apa yang kalian anggap lucu-lucuan, bisa membuat teman kalian tidak mau sekolah lagi, mengurung diri, bahkan bunuh diri. Jadilah teman yang melindungi, bukan yang menyakiti.
Di akhir amanat, Kapolsek tidak memberi perintah, ia memberi pelukan lewat kata-kata:
Nak, jauhi tawuran ya. Tidak ada pahlawan di tawuran, yang ada hanya orang tua yang menangis di rumah sakit. Jauhi judol ya, tidak ada orang kaya karena judol, yang ada hanya maling di rumah sendiri. Jauhi narkoba ya, karena sekali kalian coba, selesai sudah mimpi-mimpi indah itu.
Pulang sekolah, langsung pulang. Peluk ibu kalian. Cium tangan ayah kalian. Buat mereka bangga.
Upacara selesai dengan haru. Tidak ada yang bubar berlari-lari. Semua berjalan tertib, khidmat, membawa pulang pesan seorang ayah berseragam.
Hari itu di SMPN 1 Kragilan, Polri membuktikan: Cinta jauh lebih kuat dari rasa takut untuk menyelamatkan generasi bangsa.
