SERANG, AkalinNews.com - Pagi itu, di bawah langit Petir yang cerah, 200 santri MA dan MTs Nurul Falah berdiri tegak di lapangan. Bukan upacara biasa, karena di podium pembina, bukan guru mereka, melainkan seorang Kapolsek yang datang membawa amanat Kapolda Banten.
Senin (26/10/2026) pukul 07.15 WIB, Desa Bojong Pandan, Kecamatan Petir, menjadi saksi bagaimana polisi dan pesantren bersatu menjaga generasi.
Kapolsek Petir memimpin langsung Upacara Bendera dalam program Polisi Peduli Pendidikan (Poldik), program unggulan Kapolda Banten Irjen Pol Hendra Kurniawan. Penanggung jawab kegiatan Kapolres Serang AKBP M. Probandono Bobby Danuardi, S.H., S.I.K., M.Si.
Hadir Kapolsek Petir, Kanit Binmas, Bhabinkamtibmas, Kepala Sekolah MA dan MTs Nurul Falah, dewan guru, serta 200 siswa-siswi santri.
Dengan suara tenang namun menggetarkan, Kapolsek menyampaikan amanat Kapolda yang bukan sekadar perintah, tapi pesan ayah untuk anak-anaknya.
Tema hari ini adalah yang paling dekat dengan kalian, yaitu pencegahan kenakalan remaja, bullying, dan narkoba. Ini bukan isu jauh, ini ancaman serius yang ada di depan mata kita, di dalam HP kita, di pergaulan kita.
Kapolsek lalu membedah makna pendidikan yang sebenarnya di hadapan para santri:
Pendidikan itu bukan hanya soal nilai dan ijazah. Pendidikan adalah proses pembentukan karakter, untuk menjadi pribadi yang berintegritas, mandiri, bertanggung jawab, dan berdaya saing di masa depan.
Ia melanjutkan, kewajiban utama seorang pelajar dan santri adalah belajar dengan tekun, aktif, proaktif, disiplin, jujur, dan kerja keras. Karena hanya itulah kunci untuk menguasai ilmu pengetahuan dan meraih mimpi.
Namun Kapolsek juga jujur, masa remaja adalah masa paling indah sekaligus paling berbahaya.
Masa remaja adalah masa emas untuk berprestasi, tapi juga masa penuh risiko. Kenapa? Karena jiwa kalian masih labil, sedang mencari jati diri, mudah terpengaruh lingkungan, tekanan teman sebaya, media sosial, dan kadang kurang pengawasan dari keluarga.
Dari situlah, kata Kapolsek, kenakalan remaja lahir. Dari pengabaian sosial yang kecil, menjadi perilaku menyimpang yang besar. Dari coba-coba narkoba karena ajakan teman, dari bullying karena ingin terlihat hebat.
Kenakalan remaja dan narkoba itu saling berkaitan. Faktor keluarga, teman sebaya, media sosial, kurang edukasi, semua saling mengunci. Jika satu lepas, masa depan bisa hancur.
Di akhir amanat, Kapolsek menatap ratusan santri dengan pesan yang membuat suasana hening dan khidmat.
Ingat, masa depan bangsa ini ada di tangan kalian. 10-20 tahun lagi, kalian yang akan memimpin negeri ini. Jadikan Pancasila dalam setiap langkah, setiap keputusan, setiap sendi kehidupan kalian. Kejarlah cita-cita menuju Indonesia Emas 2045. Jauhi bullying, jauhi narkoba.
Upacara selesai pukul 08.00 WIB, aman, tertib, dan khidmat. Namun pesannya membekas lama di hati para santri.
Hari itu di Nurul Falah, Polri tidak datang dengan sirene, tapi datang dengan hati. Membuktikan bahwa polisi dan pesantren adalah dua pilar yang sama-sama ingin melahirkan generasi beriman, berilmu, dan berakhlak mulia.
