Aktivis Banten Kutuk Keras Penganiayaan Wartawan di Cisauk Polisi Diminta Segera Tangkap Pelaku

Aktivis Banten Kutuk Keras Penganiayaan Wartawan di Cisauk Polisi Diminta Segera Tangkap Pelaku

Redaksi


TANGERANG, AkalinNews.com -- Aktivis Banten Akmal Firdaus mengutuk keras aksi penganiayaan terhadap wartawan media online Barometer Indonesia News berinisial MT di Kampung Lebak Sari, Desa Mekarsari, Kecamatan Cisauk, Kabupaten Tangerang, Minggu 12 Juli 2026 malam.


Peristiwa itu terjadi saat korban menjalankan tugas jurnalistik terkait investigasi dugaan peredaran obat keras golongan G jenis Tramadol dan Eximer.


Akibatnya, MT mengalami luka memar di wajah, kepala, jari tangan kiri, pergelangan tangan, siku, pundak kiri, punggung kaki kanan, serta luka bakar di punggung tangan kanan yang diduga akibat sundutan rokok.


Kasus ini telah dilaporkan ke Polsek Cisauk Polres Tangerang Selatan dengan LP/B/123/VI/2026/SPKT/Polsek Cisauk/Polres Tangerang Selatan/Polda Metro Jaya.


"Ini bukan hanya kekerasan terhadap individu, tapi serangan terhadap demokrasi dan kebebasan pers. Wartawan dilindungi UU Pers. Negara wajib hadir melindungi," tegas Akmal Firdausi, Selasa 14 Juli 2026.


Menurut keterangan korban, pengeroyokan terjadi setelah identitas sebagai wartawan disebutkan. Sekelompok orang datang dan melakukan pemukulan. Salah satu pelaku bahkan mengacungkan golok dan berteriak "ambil golok, matiin aja di tempat".


Akmal Firdaus mendesak Kapolsek Cisauk dan Kapolres Tangerang Selatan dan Polda Metro Jaya segera mengungkap dan menangkap seluruh pelaku dan mengusut tuntas jaringan peredaran obat keras golongan G di wilayah tersebut.


"Kami menuntut proses hukum yang cepat, transparan, dan tanpa pandang bulu. Jangan sampai ada pembeking. Jika aparat lambat, kami akan turun ke jalan dan mengawal kasus ini sampai ke Polda Metro Jaya," ujarnya.


Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat sipil dan organisasi pers untuk mengawal kasus ini.


"Jangan biarkan wartawan sendirian. Hari ini MT, besok bisa siapa saja. Kebebasan pers adalah harga mati," pungkasnya.