Waterpark Kepahiang: Rp15 Miliar Sudah Habis, Air Tak Mengalir! Ikon Wisata Atau Monumen Pemborosan Anggaran?

Waterpark Kepahiang: Rp15 Miliar Sudah Habis, Air Tak Mengalir! Ikon Wisata Atau Monumen Pemborosan Anggaran?

Admin

 


Kepahiang, AkalinNews.Com - Proyek Waterpark di Desa Air Sempiang, Kecamatan Kabawetan, yang semula dipromosikan sebagai kebanggaan wisata daerah, kini justru menjadi simbol kegagalan perencanaan dan dugaan pemborosan anggaran. Dimulai sejak 2021 dengan dana sekitar Rp15 miliar, bangunan berdiri megah dan wahana waterboom terpasang. Namun kenyataannya: air belum mengalir, fasilitas tak bisa digunakan.


Yang ada hari ini hanyalah bangunan kosong dan kemarahan masyarakat.


Uang Rakyat Rp15 Miliar Habis — Waterboom Kering!


Pejabat terkait mengakui fasilitas utama telah tersedia, tetapi belum berfungsi.


“Sumber air sudah ada, tapi belum bisa dimanfaatkan karena dana belum tersedia.”


Ironisnya, untuk sekadar mengoperasikan fasilitas yang sudah dibangun, masih dibutuhkan sekitar Rp10 miliar lagi. Bahkan rencana besar proyek ini disebut bisa menelan anggaran hingga Rp72 miliar.


Publik bertanya:


Perencanaan seperti apa yang membangun wahana air tanpa memastikan airnya?


Masalah tak berhenti pada proyek mangkrak. Dinas terkait juga meninggalkan utang Rp3,2 miliar kepada kontraktor. 


Alasan refocusing anggaran dijadikan pembenaran, namun masyarakat mempertanyakan:


👉 Mengapa proyek dimulai tanpa jaminan pendanaan tuntas?


👉 Siapa yang bertanggung jawab atas beban utang daerah ini.


Pembangunan dimulai pada masa Bupati Hidayatullah Sjahid, namun tidak berlanjut hingga akhir masa jabatan.


Bupati saat ini, Zurdi Nata, menyatakan fokus anggaran dialihkan ke jalan dan infrastruktur dasar. Pernyataan ini dianggap sebagai sinyal bahwa waterpark belum menjadi prioritas penyelesaian.


Artinya: proyek bernilai miliaran rupiah berpotensi terbengkalai lebih lama.


Air Panas Alami Ada — Proyeknya “Membeku”


Waterpark ini dirancang memanfaatkan sumber air panas alami yang seharusnya menjadi daya tarik wisata unggulan.


Namun realitanya:


❌ bangunan berdiri tanpa fungsi


❌ wahana tidak beroperasi


❌ utang miliaran membebani daerah


❌ tambahan anggaran masih dibutuhkan


❌ kepercayaan publik terus menurun


Ikon Wisata atau Skandal Anggaran?


Jika tidak segera diaudit dan diselesaikan secara transparan, proyek ini berpotensi menjadi:


⚠ monumen kegagalan perencanaan


⚠ lubang pemborosan keuangan daerah


⚠ dugaan skandal anggaran yang mencederai kepercayaan publik


Masyarakat kini menunggu jawaban tegas:


Apakah waterpark ini akan menjadi kebanggaan Kepahiang. 


Atau hanya menjadi monumen beton mahal tanpa air?