Pesta Mayday di Kawasan Industri Modern Cikande Hilang Dari Esensi Perjuangan Buruh

Pesta Mayday di Kawasan Industri Modern Cikande Hilang Dari Esensi Perjuangan Buruh

Redaksi


SERANG, -- Ketua Forum Pemerhati dan Peduli Buruh Serang Raya Akmal Firdausi melontarkan kritik pedas terhadap peringatan May Day 2026 di kawasan Industri Modern Cikande. Dengan nada bicara yang tajam, ia menyebut peringatan Mayday di Kawasan Industri Modern Cikande tersebut telah kehilangan esensi perjuangan dan melenceng menjadi sekadar seremoni kosong.


"Itu bukan perjuangan buruh, tapi lebih pada pesta hura-hura," Akmal.


Akmal menilai, kemeriahan di kawasan industri modern hanyalah panggung sandiwara yang mengaburkan persoalan krusial pekerja. Baginya, Hari Buruh seharusnya menjadi momentum perlawanan terhadap sistem yang menindas, bukan ajang perayaan tanpa makna.


Ia menegaskan bahwa potret ketenagakerjaan saat ini sedang dalam kondisi darurat keadilan, di mana buruh terjebak dalam upah murah, jeratan utang, dan ketidakpastian kerja.


Dalam pernyataannya, Akmal menuntut pertanggungjawaban negara atas kegagalan menyejahterakan rakyat. Akmal menyoroti nasib buruh korban PHK yang kini terpaksa menjadi pengemudi ojek online dan pedagang kaki lima (PKL) tanpa perlindungan hukum yang jelas.


Tak hanya itu, Akmal menuntut penghapusan diskriminasi upah, penegakan tarif batas bawah untuk driver online.


"Negara gagal! Jargon investasi hanyalah fatamorgana. Buruh terus dijadikan objek pemerasan demi keuntungan pemodal," tukasnya.


Perlu diketahui bahwa anggaran pesta Mayday di Kawasan Industri Modern Cikande Serang bukan angka yang kecil.


Dikonfirmasi soal dana Mayday di Kawasan Industri Modern Cikande pihak terkait masih bungkam Kadisnaker Kabupaten Serang, Bupati Serang, Kapolres Serang dan panitia diam membisu.