SERANG, AkalinNews.com -- Ditengah dinamika hubungan industrial, idealisme buruh kembali ditegaskan sebagai pilar penting dalam membangun ketenagakerjaan yang adil dan berkelanjutan.
Idealisme ini bukan sekadar tuntutan upah dan jam kerja, melainkan kesadaran bahwa tenaga kerja adalah penggerak utama ekonomi yang harus dihormati martabatnya.
Menurut pandangan yang berkembang di kalangan buruh, idealisme buruh bertumpu pada tiga hal utama.
- Pertama, martabat kerja, yang menuntut pekerjaan manusiawi dengan upah layak, lingkungan aman, waktu istirahat dihormati, dan perlindungan dari PHK sepihak.
- Kedua, keadilan struktural, yang menyoroti ketimpangan sistem seperti kontrak kerja tidak seimbang, outsourcing tanpa batas, dan lemahnya pengawasan negara.
- Ketiga, solidaritas, sebagai penguat gerakan melalui serikat buruh dan aksi bersama lintas sektor.
Tantangannya sekarang, idealisme ini sering dibenturkan dengan narasi ‘jangan ganggu investasi’. Padahal negara maju seperti Jepang, Korea, dan Jerman membuktikan bahwa buruh yang kuat justru menjadi pilar pertumbuhan, bukan penghambat.
Idealisme buruh yang sehat ditegaskan bukan anti-perusahaan. Sebaliknya, ia pro-pekerjaan layak, pro-produktivitas berkelanjutan, dan pro-masa depan di mana kerja membuat hidup naik kelas, bukan stagnan.
Gerakan buruh berharap agar negara, pengusaha, dan pekerja dapat membangun relasi industrial yang seimbang, berkeadilan, dan berorientasi pada kesejahteraan bersama.
Penulis : Carik Mail
