SERANG, AkalinNews.com -- Kutipan Wiji Thukul tentang kembali ke pabrik, sarapan nasi bungkus, dan berutang seperti biasa menggambarkan rutinitas kelas pekerja yang berulang tanpa janji perubahan.
Dengan bahasa yang sederhana dan nyaris datar, Thukul menyingkap kenyataan pahit: hidup yang terus berjalan, tetapi tidak benar-benar bergerak maju. Pagi datang bukan sebagai harapan, melainkan sebagai pengulangan nasib.
Sepeninggal Tukul dan Marsinah sebagai martir, alih-alih nasib buruh lebih baik? Tidak! "Nasib Buruh" tetap belum berubah malah lebih kejam, didera out sourcing dan penindasan yang Terstruktur, Sistemik dan Massive melalui UU OmnibusLaw.
28 Tahun setelah Reformasi 98 sebagai tanda harapan perubahan nasib buruh kearah yang lebih baik, ternyata bulshit!
Buruh tetap terjajah, mereka masih hidup tertindas oleh penguasa dan koncone dari para oligarkhi tentunya,
